Blogger news

Selasa, 01 Januari 2019

Leaders eat last

Leaders Eat Last


Leaders eat last adalah judul buku karangan Simon Sinek, seorang motivator, konsultan keorganisasian dan penulis kelahiran Inggris 1973.

Inilah hal yang saya pelajari dari YouTube dan menurut saya, sangat menarik.

Sebuah kebetulan melihat video seminar Simon Sinek yang berjudul sama di YouTube, beliau menjelaskan kepemimpinan dari aspek yang sangat unik dan tidak terpikir sebelumnya oleh saya yang berlatar belakang engineer. Membahas leadership dari sudut pandang bio-chemistry. Pengalaman tersebut sangat menarik dan ternyata sangat benar. Saya sudah mencobanya di organisasi yang saya pimpin bersama teman-teman di kampus dan hasilnya sangat baik.

Menurut tinjauan Simon, ada beberapa unsur kimia dalam tubuh yang mengatur kebahagiaan seseorang. Endorphin, Dopamine, Serotonin, Oxycontin dan Cortisol. Masing-masing dapat menjelaskan bagaimana memperlakukan orang sehingga orang tersebut mencapai kebahagiaan dan menjadi leader yang baik.

ENDORPHIN

Endorphine adalah zat kimia yang bertanggung jawab dalam memalsukan rasa sakit. Zat ini bisa dirasakan ketika tertawa, maka tertawa secara sains memang terbukti mengurangi rasa sakit. zat ini sangat baik dalam mengatur endurance manusia, maka ketika pelari maraton berlari, tubuh akan mengeluarkan endorphin sehingga tubuh dapat memalsukan rasa sakit pada kaki dan berlari terus. 

DOPAMINE

Dopamine itu terasa nikmat. Ketika kita makan, atau mencapai suatu goals yang telah diinginkan, atau ketika mencapai target saat bekerja, tubuh memproduksi dopamine. Tubuh manusia akan terus menerus menginginkan dopamine ketika telah mendapatkannya sedikit, sehingga tercetaklah manusia yang ambisius mencapai target. Semua karena zat ini didalam tubuh dan bersifat highly addictive

Permasalahan yang sering ditemui di kehidupan saat ini adalah orang dibutakan oleh Dopamine. karena keinginannya mencapai lebih dan lebih, maka manusia sering tidak peduli sesama . Hal ini yang dirasakan oleh para pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Untuk itu, seorang leader harus bisa memanage target dan tujuan seseorang agar didalam organisasi atau perusahaan tersebut tidak terjadi "saling sikut".

Goal yang ditetapkan haruslah dapat diukur agar tubuh dapat mengetahui jika goal sudah tercapai sehingga dapat memproduksi dopamine. Contoh kita memiliki goal untuk diterima di pekerjaan yang di perusahaan dan mendapat gaji tinggi. Gaji tinggi haruslah didefinisikan berapa jumlahnya dan hal ini yang agak menyulitkan ketika kita mencari pekerjaan. Padahal, dopamine ini dapat membuat orang lebih produktif. 

Mata saya tidak sengaja melihat sebuah poster dan situs bernama Glints (https://glints.com/id/), sebuah situs marketplace lowongan kerja yang memudahkan dalam mencari pekerjaan yang cocok, dan memberikan list gaji yang transparan. Hal ini sangat baik dalam mencari pekerjaan, kita dihadapkan pada opsi yang dapat diukur dengan mudah sehingga jika ditinjau kembali dari segi Bio-Chemistry, hal ini membuat kita lebih bersemangat dan cenderung berperforma lebih baik ketika interview kerja. Membaca dan mencari lowongan pekerjaan memang tidak mudah, tapi dengan transparansi dan list perusahaan besar yang ada di https://glints.com/id/ , mencari pekerjaan akan menjadi lebih menyenangkan dan mudah.



SEROTONIN

Serotonin ini disebut Simon sebagai "leadership chemical". Zat ini yang menyebabkan rasa bangga dan percaya diri. Serotonin didapatkan dari public recognition dan dapat membuat relasi seseorang menjadi lebih rekat. Untuk itu dalam bekerja di perusahaan atau organisasi perlu adanya penghargaan yang disebarluaskan seperti staff of the month atau best performance of the year karena hal ini yang menyebabkan seseorang merasa bahagia. 

Bagian terbaik dari Serotonin ini adalah zat ini dapat menular dan merekatkan hubungan. Ketika seorang staff mendapat penghargaan, pemimpin dari staff itu juga merasakan kebahagiaan dan bangga seperti staff itu. Pemimpin tersebut juga akan merasa bangga dan percaya diri karena dalam tubuhnya juga secara tidak sadar terbentuk serotonin. Itulah alasan penghargaan seperti oscar sangat baik dan biasanya dalam pidato singkat penerima penghargaan, sang pemenang akan menyebutkan dan mencari teman atau orang-orang yang berjasa baginya. 

Serotonin bekerja dalam menguatkan relasi seseorang sehingga ketika perasaan bahagia itu datang, orang akan segera mencari orang lain yang berjasa untuk dibagi kebahagiaannya. Dalam perusahaan dan organisasi, hal in dapat digunakan untuk membangkitkan kebahagiaan. 

Itulah benefit menjadi pemimpin, ketika prestasi staffnya banyak, maka seorang pemimpin akan sangat merasa bahagia, itu juga alasan mengapa banyak yang memimpikan menjadi leader dan pemimpin itu adalah hal yang membahagiakan. 

Disisi lain, kita perlu tahu bahwa seseorang dijadikan seorang pemimpin bukan tanpa resiko. Ketika seseorang diangkat menjadi pemimpin, staff akan merelakan dan memberi credit kepada pemimpin secara tulus. Itulah alasan mengapa tidak ada yang protes jika pemimpin mendapat gaji lebih besar dari staff. Pemimpin memiliki tanggungjawab untuk membuat orang-orang yang dipimpinnya merasa aman, sehingga ketika ada pemimpin yang tidak mau berkorban untuk staffnya maka banyak orang yang akan marah. mereka merasa dikhianati dan tidak mendapat serotonin. Untuk itu jika tidak siap untuk berkorban bagi orang banyak, lebih baik tidak perlu menerima promosi atau jabatan tinggi. Mungkin anda belum siap untuk berkorban waktu dan tenaga.


OXYTOCIN

Oxycocin disebut Simon sebagai "best chemical". Zat ini adalah yang menimbulkan rasa cinta, kepercayaan, persahabatan dan rasa aman. Zat ini dapat dirasakan ketika kita melakukan kebaikan pada sesama atau "act of human generosity" dan saat ibu melahirkan. Itulah alasan adanya koneksi ibu-anak yang sangat kuat. Sebagai catatan, mempunyai banyak uang tidak dapat menggantikan act of human generosity karena Oxytocin membutuhkan Human Bond sehingga banyak yang memiliki uang tapi tidak merasa bahagia dalam hidup.

Oxytocin ini yang didapat ketika seorang leader membantu staffnya. Baik leader maupun staff yang dibantunya akan merasa bahagia dan senang. Perasaan ini tidak dapat dibuat secara instan dan butuh waktu. Zat ini juga meningkatkan sistem imun, problem solving, dan kreatifitas. Karena sifatnya yang membutuhkan waktu, maka seorang leader perlu secara intens memberikan waktu dan tenaganya untuk para staff sehingga mereka merasakan rasa aman dan rasa percaya kepada pemimpinnya. Itulah dasar yang baik dalam membuat relasi di perusahaan atau organisasi

CORTISOL

Cortisol adalah zat yang bertanggung jawab dalam membuat kita siap siaga. Tubuh akan mengeluarkan cortisol ketika kita mendengar bahaya dan membuat tubuh lebih siap dalam mempertahankan diri. Zat ini baik dalam kondisi darurat, tetapi jika zat ini tidak dibutuhkan setiap saat. Zat ini yang menyebabkan adanya sterss dan anxiety akibat adanya bahaya dan rasa tidak aman dan sifatnya menular. 

Seorang pemimpin yang baik tidak akan membiarkan staff yang dipimpinya mendapat cortisol terus menerus. Sistem perusahaan atau organisasi yang kebanyakan orangnya memiliki kelebihan cortisol akan cenderung "saling sikut" untuk bertahan hidup. Ada yang saling menyalahkan dalam perusahaan, persaingan tidak sehat dan hal lainnya akibat sesama staff tidak merasa aman diposisinya. Ada yang merasa bahwa temannya akan mengambil posisinya, atau ada yang iri hati terhadap gaji yang tidak sama antar staff, hal ini menyebabkan cortisol meningkat. Cortisol juga menurunkan sistem imun tubuh sehingga pekerjaan yang membuat stress, secara sains terbukti dapat menurunkan angka ekspektasi hidup.

Dapat disimpulkan bahwa Leadership itu adalah pilihan, pilihan untuk menjadi orang yang mau merelakan dan mengorbankan dirinya bagi orang lain atau menjadi yang "makan terakhir". 
  1. Leader yang baik adalah orang yang mampu menghadirkan canda dan tawa sehingga human endurance staffnya menjadi tinggi (Endophin).
  2. Tidak akan memberi target yang tidak sehat kepada bawahannya (dopamine)
  3. Mau mengorbankan dirinya dan senantiasa memberi apresiasi serta public recognition (serotonin)
  4. Mau membantu dan mengorbankan waktunya untuk membuat relasi dan kepercayaan kepada staffnya (oxytocin)
  5. Menjauhkan rasa tidak aman dan mampu memanage stress dari staff-staffnya (Cortisol).



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host